Memutar Haluan Hati

Shoutout ini, begitu sebutan pada Friendster, saya post kan di sini. Ternyata mendapatkan respon dari dua teman saya. Mereka menanyakan hal yang sama, apa maksud dari memutar haluan hati. Karena itulah akhirnya saya membuat tulisan ini.

Bulan yang lalu pada suatu malam, saya merasa ada yang nggak beres pada pikiran saya. Teu puguh rarasaan kata Mamah. Rasanya diri ini terlalu banyak singgah ke mana-mana, terlalu banyak situs yang saya kunjungi hingga tak sadar saya sudah kelamaan windows shopping dan berbelanja. Saya tahu bahwa destinasi saya adalah menjadi penerjemah novel dan penulis. Saya sudah membeli bahan-bahan yang memang saya perlukan untuk meramu kreativitas saya menjadi sebuah karya. Tapi saya hanya memasukkan bahan-bahan belanjaan saja ke dalam kereta belanjaan dan membelinya. Sampai di kapal layar, saya tidak segera meramunya. Malah keesokan harinya dan esoknya lagi hanya memasukkan lalu membeli lalu menggeletakan barang belanjaan begitu saja tanpa menindaklanjuti rencana. Saya plesir dan berlayar ke pulau-pulau indah yang sebetulnya bukan tempat yang terkait dengan destinasi. Saya tidak bersegera menjalankan perahu agar bisa sampai ke tempat itu. Karena terlalu lama berplesir, karena terlalu senang sehingga lupa tujuan semula berlayar.

Namun pada suatu ketika, peringatan datang. “Tidak! Kata kapten dalam hatiku, mari kita melanjutkan pelayaran kita tempat yang kita tuju. Nanti belanjaanku ini keburu kadaluarsa kalau saya tidak cepat-cepat mengolahnya. Saya tidak akan sampai pada tujuan jika tidak segera menggerakkan perahu saya. Setelah puas berplesir, akhirnya saya memutar arah atau haluan hati saya. Cukup lama saya berplesir.

Impian ini harus kembali berlayar mengarungi samudera kehidupan agar ia sampai pada destinasinya.

Maka, kuputar haluan.

Ayo hati, yakinkan dirimu untuk menepati apa yang telah terpatri dan teguhkan hati untuk meneruskan perjalananmu.

*Ia sadar kapan hatinya harus kembali berlayar.

* (baris ini terinspirasi dari kata-kata Dee dalam cerpennya “Aku Ada” yaitu …, dan ke mana sesekali hatimu berlayar).

Author: Kresna LG

EN-ID VV Translator & Writer

4 thoughts on “Memutar Haluan Hati”

  1. Saya pikir untuk ‘berlayar’ seperti itu, kita harus perhatikan arah n kecepatan angin, keadaan cuaca dan ombak, penumpang n muatan, jg bekal yg kita bawa. Semuanya bs disingkat dg ‘mood’ ato suasana hati…. Kali’ ya mbak..?

  2. Terima kasih ya atas komentarnya.. Ya betul sekali untuk berlayar mengarungi kehidupan kita harus perhatikan hal-hal yang disebutkan Mas Srex Aswinto. Semuanya itu terdapat di dalam diri kita. Bisa saja cuaca dan ombak itu diumpakan sebagai suasana hati kita. Cuaca hati yang mungkin sedang mendung, cerah, atau berawan turut serta dalam mempercepat ataupun memperlambat laju pelayaran hidup kita.

Tinggalkan Pesan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s