Resensi Rectoverso

Judul : Rectoverso

Penulis : Dewi Lestari

Cetakan : Juli 2008

Jenis Buku : Fiksi

ISBN : 978-979-96257-4-8

Rectoverso merupakan karya hibrida Dewi Lestari. Jika menurut istilah Biologi hibrida adalah turunan yg dihasilkan dari perkawinan antara dua jenis yg berlainan (tentang hewan atau tumbuhan), maka karya ini merupakan perkawinan silang antara buku dan musiknya. Rectoverso merupakan pengistilahan untuk dua citra yang seolah terpisah tapi sesungguhnya satu kesatuan. Saling melengkapi (hal iv). Dee menyuguhkan 11 fiksi dan 11 lirik lagu yang dikemas dalam buku beserta CD. Kedua karya ini saling bercermin, tapi pada saat bersamaan bisa dinikmati sebagai dua karya yang terpisah.

Rectoverso? Apa ya arti istilah ini? Terdengar asing. Telusur di Internet, ternyata, recto merupakan halaman sebelah kanan dan verso sebelah kiri dari lembar yang terlipat, seperti buku, koran atau pamflet. Nah, gambarnya seperti ini.

Istilah Rectoverso juga berkaitan dengan gambar di samping. Coba perhatikan, kedua gambar terlihat saling menimpahi, membayangi. Fotogram Recto/Verso ini dibuat tanpa menggunakan kamera atau film.

Saya terpikat dengan slogan buku ini, “Sentuh hati dari dua sisi”. Dee mencoba membangkitkan perasaan dari sisi pria dengan slogan, baca musiknya, sedangkan dari sisi wanita, dengar fiksinya. Terlihat gambar seorang wanita sedang menempelkan buku Rectoverso ke telinganya untuk mendengarkan musik, sedangkan pria sedang membaca CD. Betul-betul slogan yang menarik. Betul-betul hibrida, karena mengawinkan silang dua dunia yang menghasilkan sebuah karya cerdas karena Dee berhasil mengkaitkan istilah rectoverso, hibrida, sentuh dari dua sisi, dengar fiksinya, dan baca musiknya.

Selain keterkaitan hal-hal yang disebutkan, karya ini ada hubungannya juga dengan pandangan Dee terhadap hidup yaitu keberagaman sesungguhnya adalah kesatuan hakiki yang tersembunyi. Hal ini dapat terlihat dari 11 fiksi dan 11 lagu yang disajikan Dee pun bukan angka 11 tanpa makna, karena dia menyukai angka 11 yang mewakili kehadiran alam spiritual yang bersandingan dengan alam material. 11 fiksi dan 11 lagu itu diberi judul yang sama.

Lalu apakah fiksi dan lagu karya Dee ini saling bercermin/saling melengkapi/merupakan dua citra yang seolah terpisah tetapi sesungguhnya merupakan satu kesatuan? Inilah ulasan sebagian fiksi dan lagunya:

1. Curhat Buat Sahabat

Bercerita tentang curhat sesorang kepada sahabatnya. Sahabatnya bersedia mendengarkan keluh kesahnya setiap saat, meskipun hujan menghadang, dia tetap datang untuk menemaninya. Inilah cinta seorang sahabat. Dia tidak bosan mendengarkan curhatannya.

  • Yang kubutuhkan adalah orang yang menyayangi aku… dan segelas air putih.” (hal 6)
  • Menanti seorang yang biasa saja.. Segelas air di tangannya…

2. Malaikat Juga Tahu

Saya suka lirik “Namun kasih ini silakan kau adu.. Malaikat juga tahu siapa yang jadi juaranya.” Antara fiksi dan lirik berbeda kisahnya. Judul kedua karya tersebut sama, tapi bisa saja menceritakan kisah cinta yang berbeda. Karya yang satu ini bisa kita nikmati secara terpisah ataupun satu kesatuan.

  • Perempuan itu bisa bebas bercerita masalah percintaannya yang berjubel dan selalu gagal. Tidak seperti kebanyakan orang, Abang tidak berusaha memberikan solusi. Abang menimpali keluh kesahnya dengan menyebutkan daftar album Genesis dan tahun berapa saja terjadi pergantian anggota. Gerutuannya pada kumpulan laki-laki brengsek dibalas dengan gumaman simfoni Beethoven dan tangan yang bergerak-gerak memegang ranting kayu bak seorang konduktor. (hal 16)
  • Kali ini hampir habis dayaku

    Membuktikan padamu ada cinta yang nyata

    Setia hadir setiap hari

    Tak tega biarkan kau sendiri

    Meski seringkali kau malah asyik sendiri

3. Hanya Isyarat

Mencintai seseorang hanya sebatas punggungnya saja. Tidak bisa memiliki dirinya secara utuh. Hanya bisa menyampaikan perasaan lewat alam.

  • Namun orang itu hanya mampu kugapai sebatas punggungnya saja. Seseorang yang cuma sanggup kuhayati bayangannya dan tak kan pernah kumiliki keutuhannya. Seseorang yang hadir sekelebat bagai bintang jatuh yang lenyap keluar dari bingkai mata sebelum tangan ini sanggup mengejar. Seseorang yang hanya bisa kukirimi isyarat sehalus udara, langit, awan atau hujan. Seseorang yang selamanya harus kubiarkan berupa sebentuk punggung karena kalau sampai ia berbalik niscaya hatiku hangus oleh cinta dan siksa. (hal 47)
  • Ku coba semua, segala cara

    Kau membelakangiku

    Ku nikmati bayangmu

    Itulah saja cara yang bisa

    Untuk kumenghayatimu

    Untuk mencintaimu

    (Rasakanlah)

    Isyarat yang mampu kau tangkap

    Tanpa perlu kuucap,

    (Rasakanlah) Air, udara,

    Bulan, bintang

    Angin, malam,

    Ruang, waktu, puisi

4. Cicak di Dinding

Fiksi ini paling saya suka, karena judulnya yang paling unik di antara fiksi-fiksi lainnya. Pasti ingat kan lagu anak-anak Cicak di Dinding..? Nah, kalau si Cicak yang dikisahkan dalam fiksi ini menjelma sebagai lukisan.

Si pria yang dikisahkan sebagai seorang pelukis dalam fiksi ini, jatuh cinta kepada wanita yang akan menikah dengan sahabatnya. Dia menyiratkan perasaan cintanya bukan dengan kata-kata, namun dengan lukisan cicak di dinding.

  • Tubuh mereka melekat, lengan mereka saling mengikat, dan ke telinga perempuan itu dibisikkanlah satu kalimat: “Kutitipkan mereka untuk menjaga kamu… mengagumi kamu.”

    (hal 68)

  • Ku ingin jadi cicak di dindingmu

    Cicak di dindingmu

    Hanya suara dan tatapku menemanimu

Ya memang, kadang benda mati malah yang memenangkan tempat kita di sisi sang pujaan hati. Lelah kita mengarungi lautan rindu untuk menggapainya. Namun apalah daya, kita justru dikalahkan oleh seorang cicak, hewan atau benda kecil lainnya.

5. Firasat

Klub firasat. Hmm, baru dengar klub yang bernama firasat. Sekali lagi, nama yang unik, Dee. Inspirasi sederhana yang datang dari sekeliling kita.

Selain tersirat di dalam mimpi, firasat juga bisa kita rasakan dari pertanda alam atau bahasa tubuh.

  • Dan ia tahu aku berusaha semampuku, menyusun abjad firasat yang membanjiri di hati ini dalam komposisi yang bisa kuucapkan. Dan meski mulutku setengah membuka, hati ini mendesak ingin bercerita, tapi tak ada kata yang keluar. Satu pun tidak. Aku hanya ingin menangis. (hal 90)

    “Ibu tahu ke mana air hujan ini pergi?” tanyaku setengah berbisik. (hal 115)

    Ibu mengangguk, (hal 116)

    “Ke laut, Nak.” (hal 117)

  • Kemarin, kulihat awan membentuk wajahmu

    Desau angin meniupkan namamu

    Tubuhku terpaku

    Semalam, bulan sabit melengkungkan senyummu

    Tabur bintang serupa kilau auramu

    Ada makna di balik semua pertanda

    Firasat ini…

    Rasa rindukah ataukah tanda bahaya?

    Akhirnya, bagai sungai yang mendamba samudera,

    Ku tahu pasti ke mana kan ku bermuara

6. Tidur

Perasaaan membuncah setelah penantian selama dua tahun berujung pada pertemuan. Apa yang kita rasakan saat hari pertemuan itu tiba? Apa yang akan kita lakukan untuk meluapkan rasa rindu yang membanjiri hati dan siap tumpah. Bahagia sekaligus terharu turut mewarnai hati. Rasa rindu menyesakkan dada dan ingin ditumpahkan dalam bentuk tangis haru bahagia sejadi-jadinya.

Pernah berpisah dengan seseorang? Ya walaupun hanya dua minggu? Tidak seperti dalam cerita ini yang perpisahannya sampai dua tahun. Dua minggu saja sudah bikin dada berjejal rindu, apalagi dua tahun…

  • Aku harus mencerna kebahagiaan sederhana ini perlahan-lahan. Sekalipun ingin meloncat dan mendekap kalian erat, malam ini harus kucukupkan hanya dengan menatapi dan menjagai kalian agar tetap lelap.

    Tidurlah yang tenang, bisikku tanpa suara. Aku akan ada saat mata kalian membuka. Selalu ada. Esok, lusa, dan seterusnya.

    Sudah cukup lama aku tertidur, memejamkam mata demi melewatkan mimpi demi mimpi bersama kalian. Sekarang, biarkan aku yang terjaga.

  • Sekian lama sudah kita tak berjumpa

    Tiada terbilang lagi rindu ini

    Dalam haru, ku membisu

    Malam ini kucukupkan hanya menatapimu

    Malam ini kuputuskan untuk jaga tidurmu

    Jika nanti semua ini berlalu

    Jika ku tak lagi jauh darimu

    Aku kan temani engkau selalu

    Pagi, siang, sore, malam

    Kapan pun engkau mau

    Oh…tidur, tenang

    Oh…tidur, sayang tidur

    Aku kan ada saat matamu membuka

Teh Dewi, hati saya tersentuh oleh lirik lagunya yang berbentuk narasi, alunan musik yang pas dengan lirik, pemilihan judul buku yang bermakna, hal-hal kecil seperti cicak, klub firasat, punggung ayam yang luput dari pemikiran saya, dan kecerdasan menuangkan ide seperti misalnya pada fiksi Cicak di Dinding dan Firasat.

*Gambar-gambar di atas berasal dari: sampul depan buku, verso recto, gambar rectoverso

Author: Kresna LG

EN-ID VV Translator & Writer

Tinggalkan Pesan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s